Jumat, 06 November 2015
Home »
» TIDAK BOLEH ADA PENGULANGAN PERISTIWA TURUNNYA ROH KUDUS?
TIDAK BOLEH ADA PENGULANGAN PERISTIWA TURUNNYA ROH KUDUS?
Keberatan Sesasionis terhadap Pentakosta/Karismatik:
Pencurahan Roh Kudus di hari Pentakosta adalah peristiwa sejarah yang sangat penting-unik, tidak dapat diulang, sekali untuk selamanya. Itu dapat disamakan dengan peristiwa besar kebangkitan Yesus Kristus... Perisiwa Pentakosta tidak dapat diulang sebagaimana halnya peristiwa penciptaan alam dan manusia, sekali untuk selamanya seperti juga penjelmaan, kematian dan kenaikan Kristus...
Itu adalah Pentakosta yang pertama dan terakhir bagi gereja...
TANGGAPAN:
1. Setiap pengujian, harus ada alat pengujinya. Pertama-tama saya ingin mengutip batu ujian yang sah untuk digunakan menilai mana tafsiran yang lebih sehat. Batu uji ini dipopulerkan oleh kalangan sesasionis. “Kalangan Karismatik bukan saja tidak mentaati instruksi Alkitab secara eksplisit [tersurat] dengan memberikan penekanan dan pencarian karunia-karunia, melainkan juga meletakkan kehidupan rohani mereka dalam bahaya (DR. Edgar, 1996:262). Jadi, batu uji itu adalah: apakah tafsiran kita benar-benar berpijak kepada ayat-ayat eksplisit yang tersurat dalam Alkitab atau tidak? Atau hanya menggunakan pernyataan-pernyataan implisit (tersirat) dalam Alkitab? Artinya, semakin pijakannya eksplisit, maka tafsirannya semakin benar atau setidaknya lebih benar (lebih baik dan sehat untuk dipertahankan dan dipegang, tidak dibuang) dibandingkan dengan tafsiran yang pijakannya adalah pernyataan-pernyataan implisit (tersirat).
2. Prinsip penafsiran Alkitab yang dikehendaki, baik dalam diskusi ini, maupun dalam devosi pribadi setiap orang percaya dan dalam membangun teologia adalah: tetap berpegang pada pernyataan-pernyataan eksplisit dalam Alkitab. Kenyataanya, dalam membangun teologi sesasionis ada tiga hal yang tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam Alkitab, yaitu:
a. Itu dapat disamakan dengan peristiwa besar kebangkitan Yesus Kristus
b. Perisiwa Pentakosta tidak dapat diulang sebagaimana halnya peristiwa penciptaan alam dan manusia
c. sekali untuk selamanya seperti juga penjelmaan, kematian dan kenaikan Kristus
d. Itu adalah Pentakosta yang pertama dan terakhir bagi gereja
Jemaat diminta untuk berpegang pada doktrin yang tidak berdasar pada ayat eksplisit, dan hasilnya: Roh Kudus dibatasi dangereja terpecah serta pekerjaan misi terhambat percepatannya.
3. Yang perlu kita PERHATIKAN dengan seksama adalah bahwa saat kita mengatakan bahwa peristiwa di hari Pentakosta tidak dapat diulangi atau terulang kembali, maka kita bukan hanya menyarankan agar orang Kristen (manusia) tidak mengharapkannya lagi, atau mengajak mereka (manusia) untuk tidak mempercayai berbagai fenomena “yang mirip” dengan itu di segala zaman, melainkan juga sedang mengatakan kepada Roh Kudus untuk tidak mengulanginya kembali. Jika IA memaksakan untuk mengulanginya kembali, maka manusia sudah diajari untuk tidak mempercayainya. Atau, dengan kata lain, kalimat “tidak terulang kembali” merupakan pembatasan terhadap kedaualtan Roh Kudus. Manusia menjadi lebih berdaulat dibandingkan Roh Kudus. Jelas, ini bertentangan dengan doktrin utama tentang Roh Kudus (Pneumatologi).
4. Sebagaimana Petrus menanggapi orang-orang yang bertanya: “Apa artinya ini?” dengan mengutip nubuat Yoel 2 ratusan tahun sebelumnya, demikian jugalah yang saya lakukan disini, yaitu mengutip khotbah Petrus. Maksudnya adalah agar argumentasi saya benar-benar berpijak pada ayat-ayat Firman Tuhan secara eksplisit. Saya akan menggunakan perikop Kisah Para Rasul 2:17-21. Dalam perikop ini ada empat hal yang menyatakan bahwa penggenapan janji tentang Roh Kudus itu tidak hanya dibatasi penerapannya pada generasi Petrus saja. Pertama adalah kata “pada hari-hari akhir. Kedua, kata “anak-anakmu”. Ketiga, “semua manusia”. Dan keempat, kalimat yang berbunyi, “sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan dahsyat itu”.
5. Petrus menafsirkan kata “anak-anakmu” yang mengacu dari tenggang waktu sejak generasi Yoel hingga generasinya sendiri. Ada berapa generasi? Kita sulit menduganya. Tetapi bagi Petrus, kata itu dapat digunakan bukan hanya untuk merujuk kepada anak-anak secara individual, melainkan juga menyatakan ‘generasi’. Itu berarti, kita tidak dapat membatasi apakah kata “anak-anakmu” itu hanya terbatas pada generasi Petrus saja atau juga melintasi segala generasi. Sepanjang umat Israel masih dapat terus beranak-pinak, selama itu pulalah Roh Kudus masih berhak dan berdaulat menerapkan kedaulatan-Nya, termasuk jika Ia menghendaki untuk menyatakan pekerjaan dan tindakan-Nya yang supranatural atau suprarasional. Batasannya adalah pada frase “sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan dahsyat itu…” (ayat 20). Artinya, sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali, maka Roh Kudus masih berhak untuk mengulang-ulang segala peristiwa dan tindakan yang pernah DIA lakukan di zaman Alkitab, bahkan hal-hal yang tidak dicatat dalam Alkitab. Apakah tafsiran ini tidak bertentangan dengan kedaulatan Roh Kudus karena tidak membatasi kedaulatan-Nya. dan tidak berpijak pada ayat eksplisit?
6. Frase “semua manusia” dalam perikop itu juga mengindikasikan bahwa Allah bermaksud untuk membuat ‘semua’ manusia pada akhirnya dapat mengalami pekerjaan Roh Kudus. Kenyataan saat ini belum semua manusia mengenal dan mengalami Roh Kudus. Masih banyak suku bangsa (people groups, ta etne) yang belum mendengar Injil. Prinsipnya, kata “semua manusia” berarti tidak ada satu suku pun yang nantinya tidak mengalami lawatan Roh Kudus, setidaknya mengalami penginsyafan akan kebenaran, dosa dan penghakiman, baik plus tanda-tanda suprarasional/supranatural seperti dalam Kis. 2 maupun dalam I Kor. 12:7-10 dan Efesus 4:11, maupun minus perkara-perkara supranatural. Sekali lagi, apakah tafsiran ini tidak berpijak pada ayat eksplisit dan bertentangan dengan doktrin tentang Roh Kudus?
7. Akhirnya, yang paling jelas dan gamblang adalah frasa “Pada hari-hari terakhir”.
a. Pertama, sepanjang satu hari masih disebut atau masih digolongkan ke dalam “hari-hari terakhir”, maka pada hari-hari itu nubuat Yoel masih dapat diulang penggenapannya. Siapa yang dpat mengatakan bahwa hari atau zaman ini tidak tergolong pada “hari-hari terakhir”? Itu berarti, pada hari dan zaman manapun, sejauh masih tergolong “hari-hari terakhir”, maka Roh Kudus tetap dapat melakukan berbagai tindakan menurut kedaulatan-Nya, termasuk mengulangi apa yang pernah Dia lakukan di Hari Pentakosta.
b. Kedua, kata “hari-hari terakhir” adalah jamak, jumlah yang banyak, bukan menyatakan 1 (satu) hari. Jika kita menganggap bahwa Roh Kudus tidak boleh mengulangi tindakan yang pernah DIA lakukan di Hari Pentakosta, maka kita menganggap bahwa “hari-hari” terakhir itu hanya satu hari saja, yaitu yang jatuh pada Hari Pentakosta. Ini jelas bertentangan dengan ayat eksplisit.
8. Kini kita bahas tentang fenomena yang dilakukan Roh Kudus. Apakah Dia boleh mengulanginya lagi di hari-hari ini dan mendatang? Fenomena yang muncul di Hari Pentakosta ada tiga, yaitu lidah api, suara tiupan angin yang keras, dan bahasa roh. Artinya, fenomena kontemporer yang terjadi di tempat-tempat tertentu di seluruh bumi, jika tidak memiliki ketiga unsur itu, maka sebenarnya kita tidak dapat mengatakan bahwa fenomena kontemporer itu merupakan pengulangan dari peristiwa Pentakosta dalam Kis.2 itu, bukan?
a. Misalkan, jika di satu persekutuan di kota Bandung, ternyata dalam salah satu ibadahnya sama sekali tidak terjadi ketiga fenomena sebagaimana dalam peristiwa Pentakosta, melainkan yang terjadi adalah fenomena nubuat, penglihatan, kesembuhan atau mujizat lainnya, maka kita tentu tidak dapat menyatakan bahwa fenomena di Bandung itu merupakan pengulangan dari fenomena di hari Pentakosta.
b. Demikian juga, jika di satu tempat di kota Jakarta, dalam suatu ibadah persekutuan orang percaya terjadi hanya dua fenomena yang mirip dengan peristiwa di hari Pentakosta (misalkan bahasa roh dan lidah api), maka kita tidak dapat mengatakan bahwa hal itu merupakan pengulangan dari fenomena Pentakosta, bukan? Itu jika kita ingin berorientasi kepada tingkat ketepatan penafsiran yang sangat tinggi. Metode ini perlu kita cermati karena perhatian kita berkaitan dengan boleh-tidaknya Roh Kudus mengulang lagi tindakan-Nya yang spesifik di masa lalu ke masa kini. Pengulangan berarti ada unsur atau nilai ‘kesamaan’ antara apa yang terjadi kemudian dengan apa yang terjadi sebelumnya. Keakuratan tentang ‘apa yang sama’ menjadi signifikan, terutama jika kita sedang berbicara tentang Pribadi yang lebih agung, mulia dan terhormat dibandingkan kita. Jika sudah berkaitan dengan tindakan salah satu dari Allah Tritunggal yang maha terhormat dan mulia, tentu kita harus menggunakan logika dengan tingkat ketepatan yang tinggi, terlebih lagi jika kita mengajarkan pikiran-pikiran kita itu kepada orang lain.
c. Ilustrasi: Andi memiliki ciri khas pada tubuhnya, yaitu kaki kanannya lebih panjang daripada kaki kirinya, di atas bibir kanannya ada satu tahi lalat, telinganya lebar dan menghadap ke depan, hidungnya seperti burung paruh burung kakak tua. Jadi ada empat ciri khas pada diri Andi. Jika saya bertanya “siapa nama orang yang kaki kanannya lebih panjang?”, maka saya tidak dapat menjawab bahwa orang itu adalah Anda, karena ada banyak orang lain yang berkaki demikian. Begitu juga jika saya bertanya, “Siapa nama orang yang di atas bibir kanannya ada dua tahi lalat, kaki kanannya panjang sebelah, hoidungnya seperti paruh burung kakak tua dan telinganya lebar dan menghadap ke depan?” Tentu saya tidak dapat mengatakan bahwa orang itu adalah Andi, karena tahi lalat Andi hanya satu. Itulah makna dan nilai ‘kesamaan’.
d. Jika ternyata dalam satu peristiwa di zaman sekarang Roh Kudus melakukan tindakan yang tidak sama dengan yang terjadi di Hari Pentakosta, maka hal itu tidak berarti merupakan ‘pengulangan’. Ini masalah prinsipiil. Jika DIA memang tidak mengulang peristiwa Hari Pentakosta, maka mungkin DIA sedang mengulang peristiwa lainnya, demi mendemonstrasikan doktrin tentang kedaulatan-Nya. Misalnya, mengulang apa yang terjadi di Korintus dan/atau di Efesus.
e. Ilustrasi: jika ternyata bahasa roh yang diucapkan seseorang di zaman sekarang adalah tiga jenis lain bahasa roh (lihat judul “Jenis-Jenis Bahasa Roh”) yang memang berbeda dengan bahasa roh yang terjadi di Hari Pentakosta, maka kita tidak dapat mengatakan bahwa itu adalah pengulangan dari peristiwa Hari Pentakosta. Hanya bahasa roh yang diucapkan dengan tanpa direncanakan oleh manusia dan diucapkan di depan massa yang tidak/belum percaya Yesus sajalah (bukan dalam ibadah orang yang sudah percaya) yang benar-benar ‘sama’ dengan bahasa roh yang terjadi di Hari Pentakosta.
9. Dalam I Kor. 12:7-10 ada fenomena pekerjaan Roh Kudus yang bermuatan unsur supranatural dan suprarasional, yang ditulis tidak dalam bentuk narasi (cerita), melainkan dalam bentuk “pengajaran” (didaktik). Demikian juga dalam Efesus 4:11 (tentang karunia nabi dan karunia rasul yang dikaitkan dengan pembangunan tubuh Kristus di ayat 12-16).
a. Tentu ada bedanya (dalam kita menyikapinya) antara bentuk tulisan narasi dengan bentuk tulisan didaktik (pengajaran) dalam Alkitab. Singkatnya, bentuk tulisan narasi boleh dipilih oleh manusia atau oleh Roh Kudus untuk mengulanginya lagi atau tidak. Dan dalam kasus Kis. 2, berarti Roh Kudus, bukan manusia, boleh memilih untuk mengulanginya lagi atau tidak. Artinya, karena bentuknya narasi, maka Roh Kudus bebas memilih apakah Dia akan mengulangi tindakannya lagi atau tidak.
b. Tetapi jika bentuk tulisannya adalah “pengajaran” (didaktik), seperti yang terdapat dalam I Korintus dan Efesus 4, maka kita pun harus memberitakan atau menyampaikan ayat-ayat dalam surat-surat itu dalam bentuk pengajaran pula. Artinya kita harus mengajarkannya kepada jemaat, bukan sekedar menyaksikan atau menceritakannya saja. Siapakah kita, jika rasul saja menyajikannya dalam bentuk pengajaran, masakan kita tidak mau menyajikannya dalam cara yang sama? Tetapi HARUS dengan semangat yang benar, yaitu semangat yang sama dengan yang dimiliki penulisnya. Maklumlah, banyak orang yang menafsirkan dan mengajarkan ayat-ayat yang berbentuk “pengajaran” (didaktik) di dalam Alkitab tapi hasil akhirnya berbeda dengan yang dimaksudkan oleh penulis Alkitab. Misalkan, penulis Alkitab mengatakan “jangan melarang orang yang berbahasa roh” (I Kor 14:30, pengajaran yang berbentuk perintah), tetapi hasil penafsiran para pengajar kontemporer (semangatnya) justru melarang orang lain untuk menerapkan bahasa roh.
c. Jika penafsiran kita benar (yaitu menyajikannya dalam bentuk pengajaran di hadapan segenap orang percaya dan dengan semangat yang sama dengan para rasul), maka kita dapat melihat bahwa hasil akhir dari penafsiran kita adalah: kita akan mengijinkan Roh Kudus mengulangi kedaulatan-Nya atas dan di dalam serta melalui Gereja-Nya, sama seperti semangat/spirit yang ada dalam diri para rasul, bukan?
10. PERHATIKANLAH baik-baik bahwa ada tiga ayat yang mendahului pengajaran tentang karunia-karunia Roh dalam I Korintus 12:7-10 yang menyebutkan doktrin Allah Tritunggal (ayat 4-6). “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.” Sekali lagi, penerapan karunia rohani benar-benar mempertaruhkan doktrin, kewibawaan dan kedaulatan Allah Tritunggal. Sayangnya, banyak penafsir (baca: teolog) yang menyatakan bahwa karunia-karunia dalam perikop itu adalah karunia natural/rasional (setidaknya sebagian daripadanya), dan mengurangi esensi (kadar muatan) sifat supranaturalitas dan suprarasionalitas kesembilan karunia rohani yang tercantum dalam perikop tersebut. Apakah ini juga tidak bersinggungan dengan kehormatan dan kewibawaan Allah Tritunggal?
11. Bahkan dalam Efesus 4:11, beberapa ayat sebelumnya terlihat Penopang Agung dari ayat tersebut, yaitu KETUHANAN Yesus Kristus (Lordship of Jesus Christ).
a. Kebenaran agung itu ada dalam ayat 7-10, “Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Itulah sebabnya kata nas: "Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia." Bukankah "Ia telah naik" berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.”
b. Biasanya, kalau ada karunia nabi dan karunia rasul di gereja, maka tidak tertutup kemungkinan munculnya fenomena pekerjaan Roh Kudus yang suprarasional dan supranatural, bukan? Lalu jika itu terjadi apakah kita akan menghubungkannya dengan peristiwa Pentakosta dalam Kis. 2 sehingga kita menolak karunia nabi dan karunia rasul dalam perikop ini yang keberadaannya disajikan dengan mempertaruhkan KETUHANAN YESUS KRISTUS?
12. Kita memiliki kebebasan untuk memilih apakah suatu fenomena yang terjadi saat ini akan kita kaitkan/hubungkan dengan peristiwa dalam Kisah Para Rasul pasal 2 atau dalam I Korintus 12 dan Efesus 4:11.
a. Yang pasti kita tidak boleh menggunakan pilihan kita itu untuk mereduksi (mengurangi) otoritas ayat-ayat lainnya dalam Alkitab, terlebih lagi meniadakannya, dan terutama sekali jika ayatnya ditulis dalam bentuk “pengajaran”. Maksudnya, jika kita memilih untuk mengkaitkannya dengan Kisah Para Rasul, maka kita tidak boleh melarang Roh Kudus untuk mengulangi fenomena lainnya yang “diajarkan” dalam I Korintus 12:7-10 atau dalam Efesus 4:11. Jika itu kita lakukan kita sedang ‘bersinggungan berat’ dengan kedaulatan Roh Kudus secara praktis maupun secara konseptual (teologis, doktrinal), atau mungkin sedang (maaf) menentang program pembangunan tubuh Kristus melalui fungsi karunia rohani dalam I Kor. 12 dan Efs. 4 itu.
b. Setiap pilihan tentu akan kita pertanggungjawabkan, terlebih lagi jika kita ajarkan kepada orang lain, di hadapan Allah Tritunggal yang kedaulatan-Nya disebutkan dalam I Kor. 12:4-6, yang menopang ayat-ayat tentang karunia-karunia Roh Kudus (ayat 7-10). Oleh karena itu, bicara tentang pilihan, maka jika sebagian dari kita memiliki karunia mengajar (sebagai guru), khususnya guru Alkitab, maka Yakobus 3:1 ini harus menjadi pegangan: “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat”.
13. Berbeda dengan tafsiran para sarjana sesasionis, tafsiran saya ini tidak menyamakan antara pekerjaan Roh Kudus di Hari Pentakosta dengan penciptaan alam dan manusia; juga tidak dengan kelahiran, kematian, kebangkitan atau kenaikan Kristus. Mengapa?
a. Peristiwa Pentakosta dikerjakan oleh Pribadi yang bersifat Roh. Dan Roh Itu berdaulat. Tindakannya untuk mengulang-ulang kedaulatan-Nya di segala zaman tidak mengubah sejarah dan doktrin lain. Sedangkan penciptaan alam dan manusia, serta kelahiran, kematian dan kebangkitan Kristus bersifat fisik.
b. Sesuatu yang bersifat fisik, pasti terikat pada sejarah dan tatanan alam semesta. Jika terjadi pengulangan atasnya maka akan terjadi benturan sejarah dan perubahan tatanan semesta secara mendadak serta terjadinya konflik dengan doktrin lainnya. Artinya, sudah barang tentu Allah tidak mau mengulang-ulang penciptaan manusia, karena setelah manusia pertama berdosa, maka hadir lagi manusia yang diciptakan berikutnya yang tidak berdosa. Demikian juga dengan peristiwa fisik yang berkaitan dengan Tuhan kita Yesus Kristus: Allah tidak mau melakukan pengulangan terhadap kelahiran dan kebangkitan Kristus. Resiko dari pengulangan atasnya adalah, sekali lagi, terjadi benturan sejarah, kekacauan tatanan semesta secara mendadak, serta terjadinya konflik dengan doktrin-doktrin utama lainnya.
c. Lain halnya dengan tindakan Roh Kudus di hari Pentakosta. Dia, sebagai Pelakunya, adalah ROH. Dan yang dikerjakannya adalah hal rohani. Pengulangan terhadap kegiatan yang ‘roh-roh-an’ ini akan dijaganya sedemikian rupa sehingga tidak akan memiliki resiko yang sama dengan pengulangan terhadap hal-hal fisik di atas. Apakah hadirnya fenomena lidah api, tiupan angin keras dan bahasa roh yang diulang-ulang dengan kuantitas (frekuensi peristiwa) yang tinggi akan mengubah tatanan alam semesta, benturan sejarah dan konflik dengan doktrin lain? Tentu saja tidak.
d. Selingan: Saya pernah membaca satu buku (“Like A Might Wind”, sudah diterjemahkan menjadi “Bagaikan Angin Badai”) yang kalau tidak salah, didalamnya ada kesaksian tentang adanya lidah api, tetapi bukan di atas kepala orang-orang yang sedang bersekutu, melainkan di atas (bahkan menyelimuti?) rumah tempat mereka berdoa, sedemkian rupa hingga ada beberapa orang yang mengambil air dalam ember untuk memadamkan apinya karena kuatir api itu membakar rumah. Tapi itu bukan api ‘fisik’… Semoga saja saya tidak salah ingat tentang kesaksian tersebut. Tentu Anda akan memaafkan saya jika saya keliru, tapi ini hanya ‘narasi’, bukan ‘pengajaran’.
e. Sekali lagi, Anda dapat memilah mana yang lebih logis, yang tidak bertentangan dengan nubuat Yoel 2 dan Kis. 2, dengan ‘pengajaran’ (didaktik) dalam I Kor 12:4-10 dan Efesus 4:7-16, serta tidak bertentangan dengan doktrin utama, seperti Pneumatologi. Bagi saya, sangatlah keliru jika menyamakan antara peristiwa Pentakosta yang dikerjakan Roh Kudus dengan kejadian-kejadian fisik seperti penciptaan alam dan manusia, serta kelahiran, kematian dan kebangkitan maupun kenaikan Kristus!
14. Kalangan sesasionis sendiri menyatakan dan mempopulerkan prosedur penafsiran Alkitab sebagai berikut: jika ada tafsiran yang eksplisit, maka tafsiran yang implisit yang bertentangan dengan ayat-ayat yang eksplisit, harus dibuang atau ditinggalkan. Intinya: saya menggunakan tolok ukur (batu uji) yang dimiliki sesasionis - bukan yang dimiliki Pentakosta/Karismatik - dalam menguji apakah fenomena Pentakosta/Karismatik kontemporer sekarang ini benar-benar alkitabiah atau tidak. Bagaimana hasilnya? Anda dapat menilainya.
15. Penutup: kini giliran Anda yang menjawab pertanyaan berikut ini: bagaimana jika Roh Kudus mengulang peristiwa I Korintus 12 dan Efesus 4:11 dengan skala besar dan frekuensi tinggi? Di antara dua tafsiran (karismatik dan sesasionis): mana tafsiran yang lebih membatasi atau memberi keleluasaan terhadap kedaulatan Roh Kudus, Allah Tritunggal dan penghormatan kepada KETUHANAN YESUS KRISTUS, serta tujuan-tujuan pembangunan tubuh-Nya di segala zaman dan generasi?







0 komentar:
Posting Komentar