Jumat, 06 November 2015
Home »
» ALKITAB MEMBUKTIKAN MUJIZAT SUDAH BERHENTI (2)
ALKITAB MEMBUKTIKAN MUJIZAT SUDAH BERHENTI (2)
KEBERATAN Non-Pentakosta/Karismatik (cessationist):
"Kaum cessatinist telah membuktikan bahwa karunia-karunia tertentu sudah padam. Alkitab memaparkan bahwa mujizat hanya terjadi di zaman para rasul dan bahkan berhenti saat Perjanjian Baru selesai ditulis".
TANGGAPAN:
Pada bagian pertama saya telah menanggapi keberatan di atas, tetapi belum menyajikan ayat-ayat yang membuktikan bahwa banyak karunia dan mujizat yang tidak dituliskan di dalam Alkitab. Berikut ini adalah ayat-ayat yang saya maksud, sekaligus komentar saya dalam kaitan ayat-ayat tersebut dengan keberatan cessationist di atas.
1. Fakta pertama: Dari pelayanan Tuhan Yesus Kristus
Yoh 20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini…
Yoh 21:25 Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.
Komentar:
a. Bukan hanya Lukas (penulis Kisah Para Rasul, yang ‘kebetulan’ bukan seorang rasul), melainkan rasul itu sendiri (yaitu Yohanes), tidak berniat untuk mencatat secara rinci tiap kejadian dan peristiwa yang dilakukan Yesus, termasuk mujizat-mujizat-Nya. Jika saya tidak keliru, Yohanes hanya mencatat (dalam Injilnya) delapan mujizat saja. Tiap mujizat yang dicatatnya selalu merupakan jalan masuk bagi khotbah dan pengajaran Yesus. Jumlah ayat yang berisi pengajaran Yesus lebih banyak dibandingkan dengan ayat yang menceritakan tentang mujizat itu sendiri. Artinya: Yohanes lebih tertarik untuk menceritakan tentang SIAPA Yesus dibandingkan dengan TINDAKAN Yesus.
b. Beberapa pengajar cessationist (pasti bergelar doktor) menulis dalam buku mereka bahwa ukuran untuk menilai mujizat kontemporer adalah dengan menggunakan ukuran mujizat yang telah dilakukan Yesus. Bagaimana mungkin kita menggunakan ukuran Yesus jika kita tahu bahwa salah seorang murid-Nya tidak menuliskan mujizat Yesus itu secara lengkap dan rinci? Tentu saja kenyataan demikian berindikasi bahwa mujizat Yesus memang tidak untuk ukuran bagi para rasul atau bagi kita yang hidup di zaman sekarang. Lagi pula, jika ukuran mujizat kontemporer harus diukur dengan ukuran mujizat Yesus, apakah khotbah dan pengajaran kontemporer tidak diukur dengan ukuran Yesus pula? Apa alasannya?
2. Fakta kedua: dari pelayanan para rasul rasul.
Kis 2:43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.
Kis 5:12 Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat.
Kis 5:15 Bahkan mereka membawa orang-orang sakit ke luar, ke jalan raya, dan membaringkannya di atas balai-balai dan tilam, supaya, apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya bayangannya mengenai salah seorang dari mereka.
Kis 5:16 Dan juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun serta membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan.
Komentar:
a. Dua ayat pertama di atas tidak menyebutkan “jenis” mujizat dan tanda yang berlangsung waktu itu. Hanya ayat ketiga yang menyebutkan jenisnya, yaitu kesembuhan ilahi. Ini berarti penulisnya tidak bermaksud untuk menjadikan kitabnya sebagai ukuran dalam menentukan apakah mujizat dan tanda sudah padam di bagian-bagian akhir kitabnya. Demikian juga, tidak disebutkan kronologis atau proses bagaimana masing-maisng tanda dan mujizat itu terjadi. Padahal ini penting untuk jemaat mengetahui bagaimana para rasul itu mengikuti pimpinan Roh Kudus dalam mengerjakan tanda dan mujizat.
b. “Jumlah” (frekuensi, prevalensi) dari masing-masing jenisnya juga tidak disebutkan. Perhatikan Kis. 2:43, seberapa banyakkah yang disebut ‘banyak’ itu? Perhatikan pula kata “rasul-rasul” (jamak), bahwa tanda dan mujizat itu tidak berarti hanya dilakukan oleh tiga tiga orang rasul saja (minus Paulus karena dia belum bertobat).
c. Sekali lagi, kalangan cessationist meyakini bahwa “para rasul memiliki kendali atas mujizat”, bahwa “mereka dapat melakukan mujizat sekehendak hati mereka” (kapan saja dan dimana saja). Lalu masa pelayanan sebagian besar dari mereka juga lebih lama dibandingkan dengan masa pelayanan Tuhan Yesus. Jumlah merekapun jauh lebih banyak dibandingkan Tuhan Yesus, yang hanya seorang diri. Lalu, seberapa banyakkah seharusnya dilaporkan tentang tanda dan mujizat yang ada di dalam Kitab Kisah Para Rasul? Kira-kira berapa banyak jenis dan jumlah peristiwa mujizat yang tidak ditulis atau dicatat dalam Alkitab? Intinya: penulis Alkitab tidak berorientasi pada ‘jumlah’ atau frekuensi kejadian/peristiwa mujizat. Tapi kalangan cessationist telah membuat pengajaran normatif: bahwa TIDAK DICATAT di dalam Alkitab berarti TIDAK TERJADI sesuatu peristiwa. Padahal “Kisah Para Rasul tidak bermaksud untuk melaporkan segala peristiwa secara rinci” justru merupakan pendirian cessationist!
d. Lalu, pertanyaan bagi kita: Bolehkah Roh Kudus mengulangi bagian-bagian yang TIDAK DICATAT itu di zaman sekarang? Bukankah DIA berdaulat?
e. Sekali lagi, tidak dicatat di dalam Alkitab BUKAN berarti tidak terjadi mujizat. Hal ini berlaku bukan hanya di bagian-bagian akhir Kitab Kisah Para Rasul saja, tetapi juga di bagian-bagian awal kitab tersebut, bahkan setelah kitab tersebut selesai ditulis (karena banyak rasul yang baru meninggal setelah kitab Kisah Para Rasul selesai ditulis). Dan mereka tetap diyakini oleh para cessationist bahwa mereka dapat melakukan mujizat sekehendak hati mereka, karena terkait dengan jabatan kerasulan mereka.
3. Fakta ketiga: non-rasul.
Kis 6:8 Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.
Kis 8:6,7 Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan.
Kis 8:13 Simon sendiri juga menjadi percaya, dan sesudah dibaptis, ia senantiasa bersama-sama dengan Filipus, dan takjub ketika ia melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar yang terjadi.
Komentar:
a. Stefanus dan Filipus bukanlah rasul. Nama Filipus bukanlah merujuk pada salah seorang murid Yesus dengan nama yang sama. Keduanya adalah diaken, bukan dari kelompok 12 murid Yesus. Dalam Kis 21:8 dinyatakan bahwa Filipus adalah Pemberita Injil, bukan rasul.
b. Dalam ayat pertama tentang pelayanan Stefanus, ‘mujizat’ nampaknya dibedakan dengan ‘tanda’. Kemudian, untuk masing-masingnya dituliskan dengan kata jamak. Itu berarti Stefanus mengadakan lebih dari sekali ‘mujizat’ dan lebih dari sekali ‘tanda-tanda’. Pertanyaannya: berapa banyak?
c. Dalam ayat yang kedua tentang pelayanan Filipus, tidak disebut kata ‘mujizat’, tapi disebutkan ‘tanda’. Tentang yang terakhir itu, ternyata dikaitkan dengan roh-roh jahat. Mungkin saat roh jahat itu berseru dengan suara keras, banyak orang yang mengkaitkan ‘isi’ dari seruan roh jahat itu dengan apa yang ‘ditandai’ oleh peristiwa itu (ingat roh jahat bisa bicara dan sebagian ‘mengenal’ Yesus).
d. Usia Filipus lebih panjang dibandingkan dengan Stefanus yang lebih dahulu meninggal dirajam batu. Justru cerita tentang Filipus ditampilkan setelah Stefanus meninggal. Berapa banyak lagi cerita tentang pekerjaan Roh Kudus melalui pelayanan Filipus yang tidak dicatat?
e. Karena kedua orang itu non-rasul, maka laporan Lukas itu berarti bahwa Roh Kudus bekerja bukan hanya pada tataran rasul, melainkan juga pada tataran non-rasul. Pekerjaan Roh Kudus yang luar biasa bukan bukan monopoli rasul. Kedua orang itu adalah adalah diaken, bukan penatua, dan bukan rasul. Anda seorang diaken? Punya Roh Kudus yang sama dengan yang ada di dalam diri Stefanus dan Filipus?
f. Sayangnya ada seorang cessationist yang mengatakan (tentu ini akan makin marak dikutip oleh para doktor lainnya), bahwa mujizat memang dapat terjadi di tataran non-rasul, tetapi itu khusus bagi mereka yang ‘diutus rasul’ atau di kalangan ‘komunitas rasul’ saja. Saya akan menanggapi hal ini secara tersendiri (tapi tidak dalam waktu dekat). Atau mungkin ada teman-teman yang ingin menanggapinya? Silahkan, lho…
g. Karunia lain selain mujizat adalah nubuat. Keberatan cessationist yang ditanggapi disini adalah “kaum cessationist telah membuktikan bahwa karunia-karunia tertentu sudah padam”. Ada anak-anak Filipus yang memiliki KARUNIA bernubuat. Cessationist mengatakan bahwa di bagian akhir kitab Kisah Para Rasul tidak lagi muncul karunia-karunia roh. Justru laporan tentang anak-anak Filipus itu ada di pasal 21 yang bukan di pasal 12 (dapat dikatakan berada pada bagian-bagian akhir kitab tersebut). Tentu kita dapat bertanya, jika anak-anak Filipus dilaporkan sedemikian bebas oleh Lukas, bagaimana dengan anak-anak atau para murid dari para rasul yang waktu kitab itu selesai ditulis tetapi mereka masih hidup? Lukas tidak bermaksud untuk mewawancarai setiap rasul dan melaporkan segala sesuatu tentang pelayanan dan keluarga mereka. Kita tidak boleh melakukan generalisasi, tetapi kita juga tidak boleh memberikan kesan bahwa Roh Kudus tidak melakukan hal-hal yang roh-roh-an atau mujizat dan tanda (atau karunia-karunia lainnya) melalui non-rasul, dan bahwa karunia-karunia Roh Kudus sudah padam di bagian akhir Kitab Kisah Para Rasul.
h. Implikasi: zaman dulu, Lukas, yang juga seorang non-rasul, bebas menuliskan tentang ekspresi kedaulatan Roh Kudus. Apakah zaman sekarang orang Kristen dibebaskan untuk menyaksikan hal yang sama di dalam Gereja-Nya? Apakah mereka diajari bahwa Roh Kudus tidak berniat lagi untuk menerapkan kedaulatan-Nya sebebas-bebasnya, walaupun hari-hari ini makin dekat dengan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali dan bahwa iblis makin sibuk kerja lembur? Tidak dicatat di dalam Alkitab tidak berarti tidak terjadi mujizat. Istilah “padam” sama sekali lemah secara teologis dan nalar/logika. Di balik teologi “padam” ada satu ‘semangat’ tertentu. Ini yang perlu diwaspadai.
4. Fakta keempat: Paulus
Kis 19:12 bahkan orang membawa saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka lenyaplah penyakit mereka dan keluarlah roh-roh jahat.
I Kor 12:7-10 Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.
Gal 3:5 Jadi bagaimana sekarang, apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan Injil?
1Tim 4:14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.
a. Kata “atau” dalam Kis 19:12 menyatakan bukan ‘hanya’ saputangan Paulus, melainkan juga ‘kain’ yang PERNAH dia gunakan. Seberapa banyak saputangan ‘atau’ kain yang pernah dia gunakan? Perhatikan kata ‘orang-orang sakit’. Jumlahnya tidak disebutkan. Herannya lagi, roh-roh jahat pun keluar… Berapa banyak roh jahat yang keluar? Sekali lagi, penulis Alkitab tidak bermaksud membuat data tentang mujizat dan tanda dengan cara rinci. Akibatnya, kita tidak boleh menggunakan kata ‘padam’. Itu tidak relevan.
b. Ada pengajaran (tulisan berbentuk didaktik) tentang karunia-karunia rohani (I Kor 12). Tetapi tidak diceritakan bagaimana jemaat itu mengalaminya. Apakah pengalaman mereka sama dengan di kitab Kisah Para Rasul? Juga, dalam Kisah Para Rasul, hanya dua orang rasul saja yang diceritakan tentang perbuatan mereka. Sementara yang sebelas lagi tidak diceritakan. Sementara jemaat di Korintus lebih dari dua orang dan ada sembilan karunia yang didaftarkan Paulus dalam ayat 7-10.
c. Paulus tinggal selama 18 bulan bersama jemaat itu. Jika Paulus, seperti yang diyakini cessationist, dapat melakukan mujizat sekehendak hatinya, berapa banyak mujizat dan karunia yang telah ia demonstrasikan di kota itu selama satu setengah tahun itu?
d. Dalam Gal. 3:5 dinyatakan “… Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat di antara kamu”, menyiratkan bahwa ada mujizat yang terjadi di jemaat Galatia. Tetapi itu tidak dicatat jenis dan jumlahnya. Perhatikan pula semangat Paulus saat menyatakan, ”yang menganugerahkan Roh kepada kamu” dikaitkan dengan mujizat. Jika tidak keliru, itu dapat berarti dia ingin mereka tahu bahwa Roh Itulah yang berkuasa melakukan mujizat, bukan para rasul, dan sekarang roh itu diam di dalam diri mereka! Anehnya lagi, dia masih menambahkan kata “dengan berlimpah-limpah…”. Paulus sama sekali tidak punya waktu untuk menuliskan tiap mujizat dan penyataan kesembilan karunia roh yang terjadi dalam pelayanannya, atau dalam pelayanan para muridnya, timnya dan juga JEMAAT yang dirintisnya.
e. Paulus diperkirakan meningal tahun 65. Tentu Lukas masih hidup untuk menuliskan ayat-ayat terakhir dalam Kisah Para Rasul. Tapi Rasul Yohanes baru meninggal kira-kira tahun 95. Kenyataannya Lukas tidak menuliskan tentang hal praktis dari pelayanan Yohanes dan sebelas murid lainnya (termasuk tentang mujizat yang mereka lakukan). Padahal kalangan cessationist berpendirian bahwa para rasul dapat menggunakan karunia mujizat sekehendak hati mereka (sedangkan kalangan Karismatik percaya bahwa karunia mujizat hanya dapat dikendalikan operasionalnya oleh Roh Kudus). Artinya, Lukas memang tidak bermaksud untuk mencatat setiap kejadian luar biasa, bahkan yang dikerjakan oleh para rasul hingga akhir hayat mereka, sekalipun kitabnya disebut “Kisah Para Rasul”.
f. Kenyataan di atas membuktikan bahwa kita tidak dapat mengatakan bahwa mujizat sudah padam pada zaman Alkitab. Jika kita memaksakan pendirian demikian, maka kita sudah berkontradiksi dengan pendirian cessationist bahwa “Lukas tidak bermaksud untuk mencatat dan melaporkan setiap kejadian dan dengan secara rinci pula”. Sayangnya, kata ‘cessationist’ (dari akar kata “cease”, yang berarti “padam”) itu sendiri sudah menyatakan pendirian mereka.
g. Dalam I Kor 12:7 tidak disebutkan “kepada tiap-tiap rasul”, melainkan “kepada tiap-tiap orang” dikaruniakan penyataan Roh. Apakah tidak ada seorang pun dari jemaat itu yang tidak pernah bepergian ke gereja lain di luar kota Korintus? Apakah tidak ada yang menerapkan satu dari karunia itu di kota-kota tersebut?
h. Dalam I Tim 4:14 disebutkan tentang karunia yang ada pada Timotius yang ia terima dengan penumpangan tangan penatua dan nubuat. Artinya, sebelum terjadi penumpangan tangan, karunia itu belum ia terima. Apakah Paulus tidak pernah mengatakan hal yang sama kepada jemaat di Korintus tentang karunia-karunia rohani? Jika benar Timotius dan sebagian jemaat Korintus berusia lebih panjang dari Paulus, tentu karunia-karunia itu masih beroperasi sekalipun Kitab Kisah Para Rasul sudah selesai ditulis hingga ayat yang terakhir bukan? Artinya, sekalipun di bagian akhir kitab tersebut tidak disebutkan tentang karunia-karunia rohani, tidak berarti karunia-karunia itu sudah ‘padam’.
i. Cessationist menyatakan bahwa mujizat terjadi di zaman Alkitab adalah dengan tiga tujuan. Yaitu: untuk meneguhkan pemberitaan para rasul, untuk meneguhkan kerasulan mereka, dan untuk meneguhkan penulisan Alkitab Perjanjian Baru. Ketiga tujuan ini berujung pada: “mujizat tidak terjadi lagi setelah para rasul meninggal dan setelah Alkitab Perjanjian Baru selesai ditulis seluruhnya”. Lebih lanjut, dalam tantangan seorang doktor cessationist kepada kalangan karismatik dinyatakan bahwa seharusnya kalangan karismatik berani menyajikan ayat-ayat eksplisit untuk menanggapi kritikan mereka. Kenyataannya, dalam ayat 7 dari I Kor 12 dinyatakan secara EKSPLISIT DAN DIDAKTIK/pengajaran bahwa kesembilan karunia itudiberikan bukan untuk ketiga tujuan tadi, melainkan untuk “kepentingan bersama”. Ketiga tujuan yang disebutkan cessationist di atas sama sekali “tidak eksplisit” dalam kaitannya dengan tujuan karunia-karunia rohani yang beroperasi pada tataran non-rasul!
j. Pendirian cessationist berikutnya: Jika satu tafsiran implisit bertentangan dengan ayat eksplisit, terlebih lagi yang bersifat didaktik, maka tafsiran itu harus dibuang atau ditinggalkan!







0 komentar:
Posting Komentar