Jumat, 06 November 2015

KARISMATIK MEMBAHAYAKAN DIRI MEREKA SENDIRI




KEBERATAN:
"Kalangan Karismatik bukan saja tidak mentaati instruksi Alkitab secara eksplisit [tersurat] dengan memberikan penekanan dan pencarian karunia-karunia, melainkan juga meletakkan kehidupan rohani mereka dalam bahaya"

TANGGAPAN:
1. Kata "upayakanlah...", dan "Kobarkanlah..." yang terdapat dalam Perjanjian Baru menyatakan semangat rasuli tentang karunia-karunia Roh Kudus. Kata "pencarian" lebih mendekati semangat demikian dibandingkan dengan "larangan untuk mencari". Perbedaan 'semangat' (baca: spirit) antara orang Kristen di zaman sekarang dengan para

rasul adalah esensi dan hakiki dalam berapologetika. Menyatakan kebenaran harus dengan semangat yang sama dengan para rasul.

2. Bicara tentang "kehidupan rohani", maka tidak ada yang tidak ditaruh dalam 'bahaya', sejauh masih dapat diakses oleh roh jahat/penipu, dan sejauh manusia masih punya kelemahan kedagingan. Artinya, semakin serius seseorang mengerjakan kehidupan rohaninya, ia pasti menaruhkan dirinya dalam bahaya. Ia menjadi musuh besar iblis yang membahayakan mereka. Tetapi Allah menyediakan kasih karunia, Firman dan Roh-Nya untuk menolong umat-Nya agar tetap tidak terpeleset. Kehidupan rohani yang tidak dalam bahaya bukanlah kerohanian sejati. Kerohanian yang tanpa karunia-karunia roh pun dapat berada dalam bahaya (di hadapan Allah, bukan di hadapan iblis), karena iblis masih punya akses untuk membahayakan manusia melalui rasio, nalar dan kedagingan serta nafsu. Kerohanian yang tidak dalam bahaya justru sedang dalam bahaya yang sesungguhnya.

3. Setidaknya, kita sudah punya satu alat ukur untuk menguji, yaitu harus berdasarkan instruksi Alkitab yang eksplisit. Untuk selanjutnya saya akan menggunakan alat ukur ini untuk menguji pendirian
cessationist dan karismatik.

0 komentar:

Posting Komentar